Saturday, May 29, 2010

Harapan Seorang Istri Pada Suaminya

Ada beberapa hal yang diharapkan seorang istri kepada suaminya dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Hampir semua wanita ingin mendapat afeksi, kasih sayang, pujian, dan perhatian dari suami. Di bawah ini ada 13 harapan istri yang patut menjadi perhatian para suami.

1. Mengingat Hari Istimewa

Entah itu hari ulang tahun istri, hari pernikahan, atau ulang tahun anak. Idealnya, memang suami mengingatnya. Walaupun demikian, menurut Henny E Wirawan, MHum, Psi, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta, istri harus memaklumi kalau suami lupa karena faktor kesibukan.

2. Memperhatikan dan Menyanjungnya

Pada prinsipnya, istri ingin mendapat kasih sayang, pujian, dan perhatian suami. “Misalnya menelepon, memberi surprise di hari istimewa, atau sekadar memuji masakannya.” Hal ini dapat membuatnya makin jatuh cinta pada suami. Baginya, yang penting bukan semata materi, tapi justru hal yang sifatnya psikologis.

3. Mendukung dan Membela Istri

Ini memang tugas suami. Namun, bila bermasalah dengan mertua atau ipar, istri jangan memojokkan suami. Suami harus bisa senetral mungkin melihat situasi yang obyektif. Kalau memang istri perlu dibela, karena ada yang tak benar dilakukan orangtua, seharusnya suami membelanya. Kalau istri salah, beritahu dengan baik, bukan malah membuatnya sakit hati.

4. Gantian Dalam Mengasuh Anak

Mengasuh anak itu melelahkan, belum lagi istri harus mengurus rumah tangga. Wajar kalau istri berharap suami menggantikan beberapa saat saja. Bisa ketika suami pulang kantor atau ketika libur membebaskan istri belanja atau ke salon. Kalau keduanya bekerja, rundingkan untuk membagi waktu dan tugas. Jangan sampai urusan anak dipegang babysitter.

5. Lebih Banyak Waktu untuk Keluarga

Wajar bila istri ingin sering bersama suami. Memang suami harus bekerja, tapi istri berharap setelah itu suami memberi waktu untuk keluarga. Pun di hari-hari liburnya. Walau terkadang suami harus lembur sampai malam atau di hari libur, tapi jika bukan prioritas mendesak, istri ingin suami pulang ke rumah lebih cepat.

6. Tidak Tergila-gila dengan Hobi

Ada lho suami yang suka lupa waktu dengan hobinya, misal asyik di depan internet atau mengutak-atik mobil. “Ini berarti, suami masih bersifat kekanakan. Suami harus menyadari kalau dia sudah menikah, dituntut untuk tidak seperti dirinya di masa lalu, tapi sebagai pribadi yang lebih mature dan bertanggung jawab untuk keluarganya.”

7. Gak Genit dan Selingkuh

Tak ada istri yang ingin suaminya tak setia. Jika suami punya nilai religius tinggi, biasanya berada di mana pun si istri bisa merasa aman. Sebab, suami punya pegangan agama dan takut pada Tuhan. Bila suami tak setia, feeling istri biasanya sangat kuat. Bisa dilihat pula dari perubahan tingkah laku suami. Entah jadi lebih sayang pada istri atau justru tak peduli.

8. Tak Sering Pergi Malam/ Kelayapan

Hal ini memang tak disukai istri karena lebih banyak cobaannya. Meski mulanya tak apa-apa, lama-kelamaan bisa tergoda. Kemukakan hal ini pada suami untuk dicari jalan keluarnya. Kalau suami tak mau mengubah diri, istri yang harus mau berubah pikiran atau ambil jalan tengah. Misal, istri ikut bila suami pergi untuk juga mengenal teman-teman suami.

9. Kejujuran Suami

Ini memang harapan kaum istri. Hanya saja perlu dipikirkan, siapkah mendengar kejujuran? Misal, suami punya track record sebagai playboy. Siapkah istri kalau suami cerita petualangannya di masa lalu? Nah, kalau istri tak siap, ya, terima saja suami apa adanya.

10. Tak Melakukan Kebiasaan Buruk

Misalnya, merokok, tak ganti baju sepulang kantor, menyimpan kaus kaki sembarangan, judi, minum minuman keras, atau mencandu obat. “Komunikasikan harapan ini dengan baik, tidak dengan omelan, sindiran, dan marah. Kalau tidak, malah tambah parah.” Kalau berusaha minta suami mengubah kebiasaan, jangan katakan, “Kamu selalu.” Tapi katakan, “Saya ingin.” Atau, “Sepertinya akan lebih baik jika.”

11. Royal Memberi Uang Belanja

Setiap keluarga punya kebijakan keuangan. Ada suami yang menyerahkan semua uangnya pada istri untuk dikelola, ada pula yang pakai sistem jatah, bahkan ada yang pelit hingga hanya memberi uang belanja ala kadarnya. Kalau istri mau uang belanja lebih, pintar-pintarlah istri merayu suami. Prinsipnya, komunikasikan dan saling pengertian.

12. Mendengar Nasihat Istri

Karena istri adalah rekan hidupnya, suami memang harus minta pendapat istri dalam mengambil keputusan. Tapi istri juga mesti tahu tak semua suami bisa melakukan seperti itu, tergantung latar belakangnya. Kalau istri ingin suami mendengar nasihatnya, istri harus pintar mengambil hatinya. Misal, bicara seperti halnya seorang kekasih, yaitu dengan penuh afeksi, sehingga suami akan tergugah dan mendengarkan.

13. Membantu Keluarga Besar Istri

Boleh-boleh saja suami membantu mertua dan ipar. Begitu pula sebaliknya. Hanya saja perlu diingat, bila sudah menikah, maka yang terpenting adalah keluarga inti: istri, suami, dan anak. Bukan berarti keluarga diabaikan. Kalau suami bisa bantu, maka bantulah. Jadi, istri janganlah menuntut kelewat tinggi, misalnya suami memerhatikan ibunya, menyekolahkan adiknya, memberi modal kakaknya, dan segala macam.

READ MORE - Harapan Seorang Istri Pada Suaminya

Kewajiban Istri Terhadap Suami

Bicara tentang kewajiban seorang istri terhadap suami ada beberapa hal antara lain:

1) Harus menghargai dan menerima pemberian suami.


Seorang istri wajib menerima pemberian dengan senang hati, meski pemberian itu kurang berkenan dihatinya. Rasulullah SAW bersabda, “Perempuan (istri) yang menyusahkan suaminya dalam urusan nafkah atau membebani suaminya padahal ia tidak mampu, Allah tidak akan menerima amalnya”.


2) Menjaga kehormatan diri dan harta suami.


Inilah istri yang saleh, ia juga tidak akan meninggalkan rumah tanpa izin suami. Sabda Rasulullah SAW, “Perempuan (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya dan bakal ditanya tentang kepemimpinannya itu serta tentang harta suaminya.” (HR. Bukhari-Muslim).


3) Menyenangkan hati suami.


Untuk itu Rasulullah menganjurkan agar para istri berdandan dihadapan suaminya. “Sebaik-baiknya perempuan (istri) ialah yang menyenangkanmu jika engkau memandangnya.” (HR. Tabrani). Sangat mudah bagi istri untuk bisa merawat dan mempercantik diri. Selain bersalon, lebih utama lagi adalah dengan memanfaatkan air wudhu, insya Allah akan diberikan kecantikan alami plus cahaya Allah.


4) Melayani suami dengan baik.


Pekerjaan mengatur rumah dan segala isinya adalah tugas istri termasuk juga melayani suami selama istri mampu melakukannya. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk memenuhi kebutuhannya, hendaknya si istri mendatanginya meski ia sedang berada di dapur.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)


5) Taat dan patuh kepada suami.


Inilah kewajiban paling utama seorang istri. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya istri ialah jika memandangnya kamu akan terhibur. Jika kamu menyuruhnya, ia akan menurut patuh. Jika kamu memintanya melakukan sesuatu, ia memenuhinya dengan baik, dan jika kamu bepergian, ia menjaga dirinya dan harta bendamu.” (HR. Nasa’i). Saat terjadi pertengkaran pun, istri harus tetap hormat kepada suami. Namun, perlu diingat, kewajiban akan gugur jika suami menyuruhnya untuk bermaksiat kepada Allah.

Demikianlah berbagai kewajiban istri kepada suami menurut kacamata agama. Istri juga harus bisa beraktualisasi. Berdoalah kepada Allah agar senantiasa diberikan ilmu yang bermanfaat, terutama ilmu menjadi seorang istri salehah sebagai calon penghuni surge-Nya.


Sumber: Ust. Aa Hadi
READ MORE - Kewajiban Istri Terhadap Suami

Cara Mendidik Anak Menjadi Pintar

Menjadi anak pintar bukanlah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan saja. Melainkan ada beberapa faktor atau cara mendidik yang membuat seorang anak memiliki otak encer dibanding yang lain. Berikut beberapa hal yang disampaikan oleh MSNNews tentang seharusnya pendidikan yang didapat anak.

Pendidikan yang saya sebut disini bukanlah formal di sekolah. Melainkan yang harus dilakukan orang tua di rumah. Berikut beberapa cara yang membuat anak dapat menjadi lebih pintar dibanding yang lain :

Bermain musik

Cara ini dapat merangsang pertumbuhan otak kanan. Dan dari studi yang dilakukan oleh universitas Toronto, ini dapat meningkatkan IQ dan nilai akademis anak. Bintang pernah membaca sebuah artikel kenapa orang zionis israel menjadi pintar. Salah satunya adalah sejak masih dini mereka sudah dilatih konsentrasinya dengan bermain Piano.

Mengembangkan rasa ingin tahu anak

Pendidikan yang sukses karena anak pintar selalu ingin tahu akan hal baru. Maka daripada itu sejak kecil biasakan anda sebagai orang tua harus selalu menunjukkan rasa ingin tahu kepada anak.

Dengan begitu anda tidak perlu menyuruh anak untuk belajar ini itu. Karena dia sendiri yang akan penasaran. Otomatis dengan semakin banyak yang dia pelajari akan membuatnya menjadi pintar. Cara mendidik yang baguskan?

Budayakan membaca

Dengan kegiatan membaca akan dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan perkembangan kognitif anak. Lalu bagaimana cara untuk melakukannya? Membacakan dongeng untuk anak bisa menjadi salah satu jalan keluar. Cara lain, berikan anak hadiah sebuah buku yang dapat menarik perhatiannya.

Apalagi sekarang sudah zaman internet, mengapa tidak gunakan itu senjata dalam mendidik? Internet sudah terbukti cara ampuh untuk membuat orang sering membaca. Tentu saja karena ini untuk pendidikan anak untuk menjadi pintar, harus tetap ditemani oleh Orang Tua.

Kepercayaan diri

Mendidik anak pintar yang baik adalah membuatnya percaya diri dan selalu optimis bahwa dia bisa melakukan sesuatu. Salah satu cara adalah berpatisipasi dalam kegiatan olahraga maupun sosial dapat membantunya.Dan jangan sekalipun mendidik anak sehingga dia menjadi tidak PD.

Salah satu contoh adalah Ketika seorang ibu mengkritik gambar anaknya karena langitnya berwarna merah bukan biru. Sepertinya hal itu sepele. Tapi itu bukan pendidikan anak yang bagus. Karena anak jadi takut melakukan sesuatu karena salah. Dan manusia yang tidak pernah melakukan sesuatu bagaimana mungkin menjadi pintar.

Beberapa hal lain yang dapat membuat anak menjadi pintar adalah dengan tentu saja memberikan ASI, menyingkirkan makanan cepat saji dan memberikan makanan yang sehat, membiasakan berolahraga. Mudah-mudahan jika anda mendidik dengan pendidikan seperti cara diatas, anak bisa menjadi lebih pintar.
READ MORE - Cara Mendidik Anak Menjadi Pintar

Kewajiban Seorang Suami Kepada Istri

1. Memberikan mahar kepada istri

“Berikanlah mahar kepada wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan”.(An-Nisa`:4)

“…berikanlah kepada istri kalian maharnya dengan sempurna sebagai suatu kewajiban”.(An-Nisa`:24)

“Lihatlah apa yang bisa engkau jadikan mahar dalam pernikahanmu, walaupun hanya cincin dari besi”. (HR. Bukhari-Muslim)

2. Menjadi pelindung dan pemimpin bagi istri

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya”. (Q.S. An-Nisa:34)

3. Berlemah-lembut dalam memperlakukan, mendidik dan memimpin istri

“Bergaullah kalian dengan para istri secara patut. Bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (An-Nisa`: 19)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah dia mengganggu tetangganya, dan perlakukanlah wanita dengan baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau bermaksud meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, perlakukanlah wanita dengan baik”. (HR. Al-Bukhari Muslim)

4. Memberikan nafkah kepada istri

“Hendaklah orang yang diberi kelapangan memberikan nafkah sesuai dengan kelapangannya dan barangsiapa disempitkan rizkinya maka hendaklah ia memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya”. (Ath-Thalaq: 7)

“Bertakwalah kepada Allah dalam perihal wanita. Karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan dihalalkan atas kalian kemaluan mereka dengan kalimat Alah. Maka hak mereka atas kalian adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang ma’ruf”. (HR. Muslim)

“Engkau beri makan istrimu apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian bila engkau berpakaian. Janganlah engkau memukul wajahnya, jangan menjelekkannya, dan jangan memboikotnya (mendiamkannya) kecuali di dalam rumah”. (HR. Abu Dawud)

“Ketahuilah, kalian memiliki hak terhadap istri-istri kalian dan mereka pun memiliki hak terhadap kalian. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seseorang yang tidak kalian sukai untuk menginjak permadani kalian dan mereka tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci untuk memasuki rumah kalian. Sedangkan hak mereka terhadap kalian adalah kalian berbuat baik terhadap mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka”. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

“Seseorang sudah cukup berdosa bila menyia-nyiakan siapa yang wajib diberinya makan”. (HR. Muslim)

5. Tidak menyebarkan aib istrinya

“Manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah laki-laki yang ‘mendatangi’ istrinya, dan wanita itu pun ‘mendatangi’ suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya”. (HR. Muslim)

6. Berbuat baik (ma’ruf) dan sabar terhadap istri

“Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf”. (Al-Baqarah: 228)

“Kaum mukmin yang paling sempurna keimanannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baiknya kalian ialah yang terbaik kepada istri-istrinya”. (HR. At-Tirmidzi)

“Islam itu mempunyai tanda dan petunjuk jalan,” dan seterusnya…, di antaranya disebutkan, “Engkau memberi salam kepada keluargamu ketika menemui mereka dan engkau memberi salam kepada sautu kaum ketika melewati mereka. Siapa yang meninggalkan sesuatu dari hal itu, maka dia telah meninggalkan satu bagian dari Islam. Dan siapa yang meninggalkan semuanya, maka ia telah berpaling dari Islam”. (HR. At-Tirmidzi)

“Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub a.s atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa – diantara para istri – bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiyah, istri fir’aun”. (HR. Nasa`i dan Ibnu Majah)

7. Membantu istri untuk taat kepada Allah SWT, menjaganya dari api neraka, dan memberikan pengajaran agama

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (At-Tahrim: 6)

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Penguasa yang memimpin atas manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang mereka dan seorang pria adalah pemimpin atas keluarganya, dan ia akan ditanya tentang mereka”. (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu-Dawud, Ahmad)

“Semoga Allah merahmati seorang pria yang bangun malam untuk shalat dan membangunkan isterinya untuk shalat. Jika istrinya menolak, maka ia memercikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam untuk mengerjakan shalat dan embangunkan suaminya untuk shalat. Jika suaminya menolak, maka ia memercikkan air ke wajahnya”. (HR. An-Nasa’i)

8. Suami berhak cemburu dan menjaganya

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan putri-putrimu serta wanita-wanita kaum mukminin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka di atas tubuh mereka. Yang demikian itu lebih pantas bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita merdeka dan wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Penyayang”. (Al-Ahzab: 59)

“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: ‘Hendaklah mereka menundukkan sebagian pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka…” (An-Nur: 31)

“… janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya (tidak mungkin ditutupi). Hendaklah pula mereka menutupkan kerudung mereka di atas leher-leher mereka dan jangan mereka tampakkan perhiasan mereka kecuali di hadapan suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka (ayah mertua), atau di hadapan putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau di hadapan saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka (keponakan laki-laki), atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau di hadapan wanita-wanita mereka..” (An-Nur:31)

Dalam khutbah haji wada’ Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya tentang banyak hal. Salah satunya adalah mengenai hidup berumah tangga. Rasulullah SAW berpesan:

“Ingatlah, berilah pesan yang baik terhadap istri kalian. Sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu. Sedikitpun kamu jangan berbuat kejam kepada mereka. Janganlah berbuat sesuatu yang melampaui batas kepada mereka, kecuali telah nyata bahwa mereka melakukan kejahatan. Jika memang mereka melakukan kejahatan, janganlah kamu menemui mereka di tempat tidur. Jika engkau telah memisahkan mereka dari tempat tidurmu, mereka masih tidak merasa bersalah, maka pukullah mereka dengan pukulan yang ringan yang tidak melukai. Bila mereka taat, janganlah berlaku keras terhadap mereka”.

“Ingatlah, sesungguhnya istrimu mempunyai hak terhadap kalian para suami. Hak kalian terhadap istrinya adalah melarang mereka mengizinkan masuk seseorang yang tidak kamu sukai kedalam kamarmu dan tidak mengizinkan masuk orang yang tidak kamu sukai ke dalam rumahmu. Hak mereka atas kamu adalah kamu pergauli mereka dengan cara yang baik, tidak memukul mukanya, tidak boleh menjelek-jelekkannya dan memenuhi segala kebutuhan mereka terutama makanan dan pakaian serta tidak boleh mendiamkannya kecuali di dalam rumah”. (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda, “Ingatlah, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Orang yang paling baik budi pekertinya adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istrinya” (HR At Tirmidzi)

“Janganlah seorang mukmin memarahi istrinya ataupun seorang wanita beriman. Jika tidak suka terhadap salah satu sifatnya, maka pasti ada sifat lainnya yang menyenangkan. Dunia ini adalah suatu kesenangan yang sementara, dan sebaik-baik kesenangan di dunia adalah wanita yang shaleh” (HR Muslim)
READ MORE - Kewajiban Seorang Suami Kepada Istri

10 Tips Membina Rumah Tangga Harmonis

Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.

Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam - putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.

Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak - anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.

Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nonentity rendah dan tinggi. Tinggi rendah ought ternyata mampu melahirkan berjuta - juta lagu yang indah.

Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami - isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan - kekosongan yang ada di antar mereka.

Beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga, yaitu:

1. Jangan melihat ke belakang

Jangan pernah mengungkit - ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak? ” Buang jauh - jauh lintasan pikiran ini. Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.

Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.

2. Berpikir objektif

Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah at ease rumah tangga tidak secara utuh. Cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.

Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik prank terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian. Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri caper ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak - anak.

3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya

Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit - ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya. Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.

Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.

4. Saling percaya

Tanpa rasa saling percaya antara pasangan suami - istri, perkawinan tentu tak akan berjalan mulus. Bagaimana bisa mulus jika suami atau istri selalu mengawasi gerak - gerik kita karena ketidakpercayaannya itu? Yang muncul adalah kegelisahan, kecurigaan, kekhawatiran, tak pernah merasa tenteram, dan sebagainya. Ujung - ujungnya, Anda berdua justru saling menyalahkan dan menuduh. Rasa saling percaya akan mengantarkan Anda pada perasaan aman dan nyaman. Kuncinya, jangan sia - siakan kepercayaan yang diberikan suami Anda. Istri tak perlu mencurigai suami, dan sebaliknya, suami juga tak perlu mencurigai istri. Membangun rasa saling percaya juga merupakan perwujudan cinta yang dewasa.

5. Kebutuhan Seks

Perkawinan tanpa seks bisa dibilang seperti sayur tanpa garam. Hambar. Ya, seks memang perlu. Dan meski aktivitas seks sebetulnya bertujuan untuk memperoleh keturunan, namun manusia perlu juga mengembangkan seks untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan hidupnya. Kegiatan seks mestinya adalah penyerahan mar, saling menyerahkan diri kepada suami atau istrinya sehingga hubungan terpupuk semakin dalam. Kegiatan seks yang timpang akan menjadi masalah serius bagi suami - istri. Uring - uringan, cekcok, dan ahkan mencari pelampiasan di luar, merupakan akibat yang biasanya muncul jika soal yang satu ini muncul.

Prinsip hubungan seks yang baik adalah adanya keterbukaan dan kejujuran dalam mengungkapkan kebutuhan Anda masing - masing. Intinya, kegiatan seks adalah untuk saling memuaskan, namun perlu dihindari adanya kesan mengeksploitasi pasangan. Kegiatan seks yang menyenangkan akan memberikan dampak positif bagi Anda berdua.

6. Hindari pihak ketiga

Kehidupan perkawinan merupakan otonomi tersendiri, yang sebaiknya tak dicampuri oleh pihak lain, apalagi pihak ketiga. Kehadiran pihak ketiga yang ikut campur tangan atau mempengaruhi dan masuk ke wilayah otoritas keluarga, bisa menciptakan bencana bagi rumah tangga tersebut. Banyak contoh keluarga yang hancur gara - gara pihak ketiga ikut foremost di dalamnya. Entah campur tangan mertua, saudara ipar, kekasih simpanan, tetangga, dan sebagainya. Jadi, bila Anda menginginkan kehidupan rumah tangga Anda langgeng bahagia, sebisa - bisanya hindari campur tangan pihak ketiga.

7. Menjaga romantisme

Terkadang, pasangan suami - istri yang sudah cukup lama membangun mahligai rumah tangga tak lagi peduli pada soal yang satu ini. Tak ada kata - kata pujian, makan malam bersama, bahkan perhatian pun seperti barang mahal. Padahal, menjaga romantisme dibutuhkan oleh pasangan suami - istri sampai kapan pun, tak cuma ketika mereka berpacaran. Sekedar memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan - jalan menyusuri tempat - tempat romantis akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup Anda. Tentu, ujung - ujungnya pasangan suami - istri akan merasa semakin erat dan saling membutuhkan.

8. Adakan komunikasi

Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami - istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tanga. Bagaimana mungkin hubungan Anda dengan suami akan mulus jika menyapa pun Anda enggan. Jika rumah tangga adalah sebuah mobil, maka komunikasi adalah rodanya. Tanpanya, tak mungkin rasanya rumah tangga berjalan.

Banyak terjadi, suami atau istri apatis terhadap pasangannya karena terlalu sibuk bekerja. Suami - istri bekerja, sementara anak sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga rumah hanya seperti tempat kos, masing - masing pribadi tidak saling tegur sapa. Ini sama halnya menaruh bom waktu yang sewaktu - waktu bisa meledak. Bisa - bisa, di antara Anda kemudian mencari pelampiasan dengan mencari teman di luar untuk curhat dan tak betah lagi tinggal di rumah. Jadi, cobalah untuk selalu menjaga komunikasi dengan suami. Luangkan waktu untuk duduk atau ngobrol bersama, sekalipun hanya 5 menit setiap hari. Teleponlah atau kirimkan imil pada saat Anda berdua berada di kantor Anda masing - masing. Atau makan siang bersama. Intinya, ciptakan komunikasi, sehingga masing - masing pribadi merasa dibutuhkan.

9. Saling memuji dan memperhatikan

Meski sepele, pujian atau perhatian sangat besar pengaruhnya bagi suami, dan sebaliknya. Ucapan bernada pujian akan semakin memperkuat ikatan suami - istri. Tanpa pujian atau perhatian, bisa - bisa yang ada hanya saling mencela dan merendahkan. Memberikan pujian ringan seperti “Masakan Mama hari ini luar biasa, lho! ” atau “Wah, Papa tambah keren pakai dasi itu. ” Ucapan - ucapan sepele seperti itu akan memberikan dorongan / semangat yang luar biasa. Pasangan Anda pun akan merasa dihargai. Memuji tak butuh biaya atau ongkos mahal, kok. Yang dibutuhkan adalah ketulusan dan rasa cinta pada pasangan.

10. Sertakan sakralitas dalam rumah tangga

Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung - hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.

Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah SWT. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah SWT. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.

Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!
READ MORE - 10 Tips Membina Rumah Tangga Harmonis

Tip Pasangan Hidup Bahagia

Pasangan yang bahagia tahu bahwa hubungan nyata dimulai saat masa bulan madu usai. Kecuali Anda tetap memelihara taman cinta itu, keindahannya akan sirna dan mati. Karena itu, peliharalah taman cinta Anda agar tercipta rumah tangga harmonis dan Anda akan mendapatkan keindahan dalam hidup berumah tangga. Anda bisa mencoba tips pasangan bahagia berikut ini:

1. Berangkat Tidur Bersama

Langkah itu memang terkesan sepele, bahkan mungkin luput dari perhatian Anda. Tapi menurut Dr Mark Goulston dalam buku The 6 Secrets of a Continuing Relation, itu merupakan salah satu kunci kebahagiaan suami - isteri. Tentu itu mudah, tapi kadang Anda sulit melakukannya.

Goulston menyarankan Anda untuk selalu mengingat masa awal pernikahan. Kala itu, bukankah Anda tak sabar menunggu untuk berduaan di tempat tidur?. Menurut dia, pasangan yang bahagia menolak berangkat tidur sendiri. Kalau sally nanti bangunnya tak bersama - sama, bukan masalah. Begitu quirk saat bertengkar. Biasakan tetap berangkat tidur bersama - sama walau tak bicara. Usahakan untuk tetap bersenggolan tangan atau kaki. Dan hindarilah punggung - punggungan, karena itu akan menjauhkan Anda berdua.

2. Samakan Minat

Jangan mengecilkan arti aktivitas yang dapat Anda kerjakan bersama pasangan. Jika belum punya, menurut Goulston, pasangan yang bahagia biasanya mengusahakannya. Namun pada saat yang sama, tetaplah memelihara minat pribadi Anda. Dengan begitu Anda akan semakin menyukai pasangan Anda tanpa menjadi tergantung.

3. Jalan Bergandengan

Pasangan bahagia akan merasa nyaman jika berjalan sambil bergandengan tangan atau bersebelahan, ketimbang satu di depan, satu di belakang memandangi punggung. Rasanya memang aneh bagi yang tak biasa. Canggung memang, mungkin saja Anda malu untuk menunjukkan kemesraan di muka umum. Untuk itu tepis saja rasa malu, toh dia pasangan sah Anda. Cobalah!. Sekali mencoba pasti Anda akan keterusan. Dan rasakan sensasinya. Hati Anda berdua stunt terasa makin lekat.

4. Cari Sisi Positif

Goulston menyarankan Anda untuk tidak mencari - cari kesalahan pasangan Anda. Pusatkan perhatian pada apa yang dilakukannya secara benar, bukan pada yang salah. Gampang memang bagi Anda untuk menemukan hal keliru yang dia lakukan. Anda pun sama juga selalu bisa menemukan hal benar. Jika dua - duanya mudah, mengapa Anda tak mencari hal yang benar. Karena itu akan membantu Anda membangun keharmonisan rumah tangga. Kata Goulston, pasangan bahagia lebih memilih sisi positif.

5. Saling Memaafkan

Itu juga bagian yang harus Anda perhatikan. Rumah tangga tanpa kepercayaan, sama saja dengan meniti petaka. Jadi, buatlah kepercayaan dan memaafkan sebagai pegangan baku dalam hubungan Anda. Kata Goulston, jika pasangan bahagia bertengkar atau berbeda pendapat dan tak bisa menyelesaikan, mereka akan mengutamakan rasa percaya dan memaafkan satu sama lain, bukan rasa tidak percaya dan tanpa ampun.

“Rasa aman berbicara tentang ketenangan batin. Seorang suami dapat merasakannya ketika ia tahu istrinya mempercayai dia dan komitmennya terhadap pernikahan mereka, ” kata David dan Teresa Ferguson dalam bukunya * More Than Married *. Sedangkan rasa aman yang mungkin dirasakan istri, datang saat sang suami menolongnya lepas dari ketakutan lewat kata - kata penghiburan yang menenangkan dan penuh kasih. Komitmen terhadap pasangan dapat dikomunikasikan melalui dukungan yang sejati dan pujian yang tulus.

6. Saling Berpelukan

Saling berpelukan segera setelah bertemu sepulang kerja. Kulit kita, kata Dr. Goulston, memiliki memori tentang ’sentuhan baik’ ( cinta ), ’sentuhan buruk’ ( pelecehan ) dan ‘tanpa sentuhan’ ( penolakan ). Pasangan yang saat bertemu langsung berpelukan berarti memelihara ingatan kulitnya dengan ’sentuhan baik’ dan memberi kehangatan.

7. Katakan Cinta

Jangan ragu untuk mengatakan cinta pada pasangan Anda. Ungkapkan saja, “Aku cinta padamu” atau bentuk perhatian lain, misalnya dengan mengatakan, “Baik - baik ya” pada pagi hari. Itu merupakan cara hebat untuk mendapatkan kesabaran dan toleransi menghadapi dunia luar yang tak teratur dan semrawut. Selain itu juga untuk meyakinkan pasangan bahwa Anda mencintai dia, juga wujud perhatian Anda.

8. Ucapkan Salam

Satu kata lagi yang kadang Anda lupa adalah salam menjelang tidur. Ucapkan “Selamat malam sayang” setiap malam menjelang tidur. Malah akan lebih berkesan jika ditambah dengan kecupan. Itu harus rutin Anda lakukan setiap malam, apa pun kondisi Anda. Tak peduli bagaimana perasaan Anda.

Menurut Goulston, hal itu akan mengingatkan pasangan Anda bahwa betapa horseplay Anda sedang marah tetap ingin bersamanya. Artinya, apa yang Anda berdua miliki lebih penting ketimbang kemarahan satu hari itu.

9. Membaca Hati

Bacalah cuaca hati pasangan Anda setiap saat. Usahakan untuk berbicara dengannya di sela - sela kesibukan kerjanya, dengan demikian Anda bisa menyesuaikan diri dengan suasana hatinya setelah bertemu. Tentu saja itu untuk menghindari konflik yang mungkin bisa terjadi. Memang sakit hati, kejengkelan, dan kebutuhan - kebutuhan yang tak bisa Anda penuhi, adalah hal - hal yang tak dapat dihindarkan dalam setiap hubungan dekat. Bahkan sepulang dari berbulan madu, hal - hal yang terjadi dalam keseharian dapat memunculkan kejengkelan - kejengkelan.

Ya, pernikahan memang dua pribadi tak sempurna yang bertekad menjadi satu dalam kedekatan yang permanen. Wajar jika muncul konflik. David dan Teresa Ferguson dalam bukunya * Deeper Than Married * mengatakan jangan pernah berpikir bahwa dapat memiliki hubungan yang intim tanpa mengalami konflik. Namun usaha penyelesaian konflik yang benar dapat menambah keintiman dan mendatangkan kedamaian dalam pernikahan. Mengapa?, “Karena hal ini membuat pasutri sama - sama merasa aman, ” kata mereka.

10. Bangga Bersama

Anda harus merasa bangga terlihat bersama pasangan Anda. Itu akan membahagiakan dia. Pasangan yang bahagia senang bisa bersama - sama. Menurut Goulston biasanya itu ditunjukkan dengan sentuhan tanda sayang di antara mereka. Misalnya gandengan tangan, rangkulan, pelukan, elusan. “Bukan mau pamer, tapi hanya ingin mengatakan bahwa mereka saling memiliki, ” kata dia.
READ MORE - Tip Pasangan Hidup Bahagia

Cara Mendidik Anak Yang Kurang Baik

Mungkin ini adalah bukan panutan tapi ini, adalah pengalaman saya pribadi. kalaupun mau diterapkan juga boleh karena ini mungkin sangat membantu dan semoga saja banyak manfaatnya.........

Menurut saya, berikut adalah beberapa contoh dari cara mendidik anak yang kurang baik.

1. Jika anak terjatuh karena menyenggol meja, kita memukul mejanya dan mengatakan pada si kecil bahwa meja itu jahat.

atau:

kalau anak A memukul anak B sehingga si B menangis, kita akan ( pura - pura ) memukul si A di depan si B agar si B tidak menangis lagi.

Sikap seperti ini akan mendidik anak menjadi manusia pendendam. Si anak juga akan terdidik untuk menjadi manusia yang tidak pernah merasa bersalah. " Pokoknya apapun yang terjadi, yang salah adalah orang lain, bukan saya! "

2. Kalau anak terjatuh, kita akan langsung menggendongnya dan melindunginya, bersikap seolah2 si anak baru saja mengalami musibah yang sangat besar.

Sikap seperti ini akan mendidik anak menjadi manusia manja, yang tidak kuat menahan cobaan hidup. Mereka akan gampang menyerah jika menghadapi masalah.

Saya kira, biarkan sajalah kalau anak kita cuma jatuh biasa. Bilang bahwa jatuh itu biasa, dan yang ia alami tak perlu dikhawatirkan. Kecuali kalau jatuhnya keras sehingga kepalanya benjol, itu lain ceritanya, hehehehe...

3. Menakut - nakuti si anak akan adanya hantu.
Biasanya, cara seperti ini digunakan oleh orang tua jika anak mereka bandel atau tidak bisa diberitahu.

memang, dalam jangka pendek sikap seperti ini biasanya efektif. Tapi untuk jangka panjang, ini justru tidak baik. SI anak akan tumbuh menjadi seorang yang penakut. ia akan takut pada hantu, padahal hanti atau jin sebenarnya tak perlu ditakuti. Mereka adalah makhluk yang jauh lebih rendah dari manusia. Mulai sekarang, kita justru harus menamamkan pengertian pada anak bahwa hantu tak perlu ditakuti. Kita justru harus " anggap remeh " terhadap hantu.

4. Terlalu banyak melarang.

" Jangan nak, nanti kamu jatuh. "
" Jangan main air dong, nanti masuk angin. "
" Kok makannya belepotan gitu? Jorok tahu! "
" Itu nasi kok dibuang? Kan mubazir! "

Anak adalah jenis manusia yang sedang dalam proses belajar. Jadi wajar dong, kalau mereka sering melakukan kesalahan. Jika mereka membuang nasi misalnya, langkah terbaik bukanlah memarahi mereka dan mengatakan itu mubazir. Tapi alangkah baiknya jika kita memberitahu mereka dengan cara yang lebih menyenangkan, dan bisa diterima oleh pikiran mereka yang masih terbatas.

Terlalu banyak melarang juga akan mendidik anak menjadi manusia yang tidak berani mencoba hal - hal baru.

5. Menganggap si anak sebagai orang bodoh
Kita sering berkata, " Ah, anak kecil, Tahunya apa! "

Padahal, banyak anak kecil yang berhasil menunjukkan kehebatan mereka. Mereka berhasil membuktikan bahwa mereka adalah orang - orang yang pintar dan hebat, walau usia masih amat muda.

Saya kira, kita harus menghargai eksistensi setiap anak, apalagi kalau anak sendiri! Kita justru harus memperlakukan mereka sebagai seorang manusia yang berpotensi. Kita tak pernah tahu persis, seberapa besar ilmu pengetahuan yang sudah tersimpan di kepala anak kita. Karena itu, jangan sekali - kali menganggap mereka bodoh, belum tahu apa - apa, dan sebagainya.

Dengan memperlakukan mereka secara wajar, ini akan mendidik anak menjadi seorang manusia yang percaya diri sehingga ia akan lebih mudah meraih sukses.

6. Memarahi anak jika mereka bertanya

Mungkin kita punya anak yang terlalu banyak bertanya. Karena bosan dan jengkel, kita memarahinya, mengatakan mereka cerewet, bahkan menyuruhnya untuk tidak terlalu banyak bertanya.

Padahal, anak yang cerewet atau sering bertanya, sebenarnya adalah anak yang sangat pintar. Mereka ingin tahu banyak hal. Karena itu, cobalah untuk bersabar menghadapi mereka. Jawablah pertanyaan2 mereka sebisa mungkin, dengan cara yang menyenangkan. Dengan cara seperti ini, kreativitas dan kecerdasan anak akan tumbuh dengan sewajarnya.

READ MORE - Cara Mendidik Anak Yang Kurang Baik

10 Kesalahan Mendidik Anak

Bila Anda berpikir apakah Anda adalah orang tua yang teladan? Maka jawaban Anda, pasti tentu saja saya orang tua teladan bagi anak saya. Mana ada sih “Harimau yang memakan anaknya sendiri”, atau mungkin mana mungkin sih kita mencelakakan anak kita sendiri. Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra - putrinya. Kenyataannya banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam mendidik putra - putrinya.

Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang mungkin Anda tidak sadari terjadi dalam mendidik anak Anda:
Rata Penuh
1. Kurang Pengawasan


Menurut Professor Robert Billingham, Human Enlargement and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian.

2. Gagal Mendengarkan

Menurut psikolog Charles Fay, Ph. D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga - duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.

3. Jarang Bertemu Muka

Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda.

4. Terlalu Berlebihan

Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jelly mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 conserve bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.

5. Bertengkar Dihadapan Anak

Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph. D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak - anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.

6. Tidak Konsisten

Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.

7. Mengabaikan Kata Hati

Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara - suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”.

8. Terlalu Banyak Nonton TV

Menurut Neilsen Media Research, anak - anak Amerika yang berusia 2 - 11 tahun menonton 3 preserve dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama - lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik.

9. Segalanya Diukur Dengan Materi

Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan superiority turn bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.

10. Bersikap Berat Sebelah

Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak deficient 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.
READ MORE - 10 Kesalahan Mendidik Anak

Wednesday, May 26, 2010

Mengajarkan Anak Bersedekah

Awal mengajarkan anak bersedekah, khususnya anak usia dini adalah dengan keteladanan. Anak diajarkan untuk bisa bersedekah kepada fakir miskin. Orang tua yang mengajari anak, dan cukup mengatakan ini sedekah. Karena mungkin anak kecil belum tahu apa makna sedekah lebih dalam. Ia hanya tahu kalau ada peminta - minta maka orang tuanya memberikan uang misalnya 500 atau 1000. Sedikit - sedikit ketika anak sudah mulai isa diajarkan berkomunikasi, maka kita mengenalkan makna sedekah.

Bahwa Nabi SAWd mengajarkan kita untuk bersedekah, bahwa sedekah itu berpahala dan Allah mencintai orang - orang yang bersedekah. Orang yang bersedekah akan mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda di akhirat. Akhirnya anak akan mengenal kebiasaan bersedekah dan tidak pelit atau sulit menyedekahkan sebagian hartanya. Kalau ia punya uang jajan, ia tidak sulit menyedekahkan uang jajannya. Kalau dia tidak punya uang kita juga bisa mengajarkan untuk mengatakan tidak, maaf pak / bu sedang tidak ada uang.

Pada pendidikan prabaligh, usia SD kita sudah bisa mengenalkan lebih jauh tentang sedekah. Kita mengajarkan tentang Infaq. Bahwa ada infaq yang wajib dan ada infaq yang sunnah. Infaq wajib apa saja, diantaranya menafkahi keluarga dan berzakat, infaq yang sunnah adalah sedekah. Tetapi sedekah ini sudah menjadi kebiasaan baik yang mudah dilakukan seorang anak, karena dia sudah biasa melakukannya sejak kecil. Yaitu menjalankan sunnah bersedekah. Targetnya adalah ia menjadi orang yang mudah mengorbankan hartanya

Bagaimana bila anak sulit berbagi?

Kalaupun ada anak yang kategorinya sulit berbagi, maka dengan pengajaran bersedekah ini akan lebih cepat terindikasi. Misalnya, ketika dia tidak mau mengorbankan uang jajannya selain untuk jajan. Maka ini indikasi anak tidak mudah mengorbankan harta. Saya juga pernah meminta tolong seorang anak kecil memberikan sedekah kepada pengemis di luar, dia mengatakan yang 500 buat aku ya. Waktu itu sedekahnya 1000. Ini menunjukkan dia belum otomatis memberikan sedekah dengan mudah. Tapi insya Allah dengan pembiasaan yang baik dan runtin anak akan berubah. Kepada anak yang sulit mengorbankan harta kita bisa memberikan pemahaman bagaimana kelebihan - kelebihan orang yang suka bersedekah.

Pada anak - anak dengan rasa pemilikan tinggi, apakah mereka ini bisa diajarkan mudah bersedekah? Insya Allah bisa, asalkan orang tua intensif memperhatikan masalah ini. Saya pernah melihat seorang anak dengan rasa memiliki yang tinggi. Tetapi karena dia telah dibiasakan bersedekah, maka ia tidak pernah menyia - nyiakan kesempatan untuk bersedekah.

Di sisi lain, ketika bukan sedang bersedekah maka dia sangat pandai menjaga dan mengembangkan hartanya. Sebenarnya ini sifat yang baik yang akan menguatkan seorang muslim. Ketika dia berbisnis, maka dia optimalkan kemampuannya untuk berbisnis. Mengembangkan harta dengan cara yang halal. Ketika ia bersedekah, maka ia tidak segan - segan mengorbankan hartanya dijalan kebaikan. Sebagaimana yang terjadi pada sahabat Abudrrahman bin Auf yang kaya raya karena pandai berdagang dan Allah melimpahinya kekayaan yang mengalir. Ia juga sangat banyak berinfaq, baik infaq yang wajib seperti zakat dan menafkahi kerabat atau infaq yang sunnah seperti sedekah.

Seringkali sekarang peminta - minta itu terorganisir dan belum tentu mereka miskin, apakah ini tidak menghambat keinginan kita untuk bersedekah?

Sedekah adalah sedekah. Ketika ada orang meminta, maka kalau kita memberi itu berpahala. Kecuali bila secara zhahir kita tahu hasil sedekah itu akan digunakan untuk berbuat maksiat. Maka lebih baik tidak diberikan. Tetapi apapun yang kita berikan secara ikhlas akan berpahala. Dan Allah SWT tidak akan menyia - nyiakan amalan kita. Untuk itu memang harus dipisahkan tentang bagaimana solusi terhadap orang yang suka meminta - minta karena terorganisir atau profesi dengan sedekah kita. Jangan sampai analisa - analisa kita yang bisa jadi sebagian hanya sumsi akan menghalangi kita berbuat baik. Kalau pun ketahuan bahwa ternyata mereka tidak miskin dan hanya sekedar meminta - minta untuk menumpuk kekayaan, maka sedekah kita yang ikhlas tidak akan sia - sia dan selanjutnya kita akan bisa bersedekah secara jelas kepada fakir miskin.

Sementara di sisi lain kita juga perlu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar kepada mereka yang mencari kekayaan dengan cara itu. Bisa menyampaikan kepada pemerintah atau para tokoh masyarakat yang bisa memberikan jalan keluar. Tetapi yang terbaik adalah terus menerus menegakkan dakwah utuk mengubah sistem yang kapitalistik seperti ini, karena hal tersebut juga bersumber dari kehidupan yang kapitalis dan sekularis. Dengan kehidupan Islam, insya Allah masalah - masalah semacam itu juga akan terselesaikan.
READ MORE - Mengajarkan Anak Bersedekah

Indahnya Keluarga Harmonis

Banyak factor yang mendasari terbentuknya sebuah keluarga . Peran dari masing-masing anggota juga sangat penting untuk dapat mewujudkan keluarga yang harmonis. Suami, istri, dan anggota keluarga lain memilii peranan masing-masing.

Keluarga harmonis merupakan dambaan bagi setiap orang. Karena dalam sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia,seseorang akan dapat merasakan kenikmatan dan kebahagiaan . Dalam sebuah keluarga yang harmonis pula, seorang anak akan dapat tumbuh dengan baik, serta keharmonisan akan terus terjaga.
READ MORE - Indahnya Keluarga Harmonis

Saturday, May 22, 2010

Mendidik Anak dengan Cara Islam

Pendidikan anak sebelum lahir.

Anak merupakan salah satu anugerah terbesar yang dikaruniakan Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Kehadiran seorang anak dalam sebuah rumah tangga akan menjadi generasi penerus keturunan dari orang tuanya.

Rasulullah Axiom dalam sebuah riwayat pernah berkata, "Sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci ( fithrah, Islam ). Dan, karena kedua orang tuanyalah, anak itu akan menjadi seorang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi".

Penjelasan ini menegaskan bahwa sesungguhnya setiap anak yang dilahirkan itu laksana sebuah kertas putih yang polos dan bersih. Ia tidak mempunyai dosa dan kesalahan serta keburukan yang membuat kertas itu menjadi hitam. Namun, karena cara mendidik orang tuanya, karakter anak bisa berwarni - warni: berperangai buruk, tidak taat kepada kedua orang tuanya, dan tidak mau berbakti kepada Allah SWT.

Dalam Alquran atau hadis Nabi Muhammad Maxim, telah diterangkan tentang tata cara mendidik anak. Di antaranya adalah harus taat dan patuh kepada kedua orang tuanya, tidak menyekutukan Allah, tidak membantah perintah - Nya, tidak berbohong, dan sebagainya. [Lihat QS 9: 23, 17: 23, 17: 24, 29: 8, 31: 15, 37: 102, 2: 83, 4: 36, 6: 151, 12: 99, 12: 100, 17: 23, 17: 24, 19: 14, 19: 32, 29: 8, 31: 14, 46: 15].

Apabila telah dewasa, seorang anak berkewajiban untuk memberi nafkah kepada kedua orang tuanya [2: 215, 30: 38], anak juga berkewajiban memberikan nasihat kepada orang tua [QS 19: 42, 19: 43, 19: 44, 19: 45], mendoakannya [QS 14: 41, 17: 23, 17: 24, 19: 47, 26: 86, 31: 14, 71: 28], serta memelihara dan merawatnya ketika mereka sudah tua [QS 17: 23, 17: 24, 29: 8, 31: 14, 31: 15, 46: 15].

Pendidikan anak.

Berkenaan dengan cara mendidik anak ini, Abdullah Nashih Ulwan merumuskan tata cara mendidik anak dengan baik dan benar. Sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Rasulullah Aphorism. Secara lengkap, ia menuliskannya dalam sebuah kitab yang berjudul Tarbiyah al - Awlad fi al - Islam ( Pendidikan Anak Menurut Islam ).

Secara umum, isi kitab ini sangat mendasar, padat, komprehensif, dan lengkap dengan petunjuk praktis dalam mendidik dan membimbing seorang anak agar menjadi anak yang saleh.

Secara lebih khusus lagi, setidaknya ada dua persoalan inti dari karya Abdullah Nashih Ulwan ini. Pertama, visinya tentang makna pendidikan. Menurut Ulwan, pendidikan bukan sekadar perlakuan tertentu yang diberikan kepada anak untuk mencapai sebuah tujuan.

Kedua, visi tentang pendidikan anak. Dalam pandangan Ulwan, setiap anak memiliki kehidupan sosial, biologis, intelektual, psikis, dan seks. Dalam kehidupan sosial, setiap anak pasti terlibat dengan berbagai pihak, seperti orang tua, pattern, tema, tetangga, dan orang dewasa. Dan, anak tidak dengan sendirinya dapat berhubungan dengan berbagai pihak itu sesuai atau selaras dengan tuntunan Alquran dan sunah ( Islam ). Karena itulah, kata Ulwan, setiap anak memerlukan bimbingan dan nasihat agar mereka bisa berjalan dengan lurus.

Pernikahan.

Dari kedua visi yang dimaksudkan Ulwan, terutama pada visi pertama mengenai pendidikan, ia memulainya dengan bab pernikahan. Tentu, ada pertanyaan besar, mengapa masalah pernikahan ditempatkan pada urutan pertama mengenai pendidikan anak dalam kitab ini?

Bagi Ulwan, pernikahan adalah awal mula terjadinya hubungan dan interaksi antara seorang suami dan istri dalam melanjutkan garis keturunan. Ulwan tidak membatasi pernikahan itu pada hubungan ragawi antara seorang pria dan wanita belaka. Ia lebih menyingkap makna pernikahan dalam rangka keberadaan atau eksistensi manusia, menyangkut kemaslahatan hidup pasangan suami istri.

Kemaslahatan hidup yang damai, indah, tenteram, dan bahagia baru bisa diwujudkan dari sebuah pernikahan. Sebab, dari pernikahan akan terjadi peningkatan tanggung jawab, baik sebagai seorang suami dan istri maupun sebagai pasangan ayah dan ibu ( orang tua ). Karena itulah, jelas Ulwan, sebelum menikah, seorang suami atau istri harus mencari pasangan yang berasal dari keluarga yang baik, taat beragama, kaya, dan gagah ( tampan, cantik ). Tujuannya agar dapat terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Sebuah pernikahan sangat berkaitan erat dengan keturunan ( anak ). Anak merupakan pelanjut ( penerus ) eksistensi sebuah keluarga. Karena itu, Islam mengajarkan pula agar sebelum menikah hendaknya dapat diketahui keluarga pasangan mempunyai keturunan yang banyak ( mudah melahirkan, tidak mandul ).

Abdullah Nashih Ulwan menempatkan pernikahan sebagai prasyarat untuk menyelenggarakan pendidikan anak secara Islami. Prasyarat lainnya adalah kasih sayang yang harus tercermin pada seluruh perilaku orang tua dalam berhubungan dengan anak yang sekaligus dipersepsikan oleh anak sebagai ungkapan kasih sayang dari orang tuanya.

Sejak dini.

Ulwan menambahkan, prasyarat pendidikan harus dimulai sejak dini. Ketika anak masih berada dalam kandungan, seorang ibu harus rajin mengajarkan akhlak yang positif. Selanjutnya, ketika anak telah dilahirkan ke dunia, langkah awal adalah dengan dilantunkannya kalimat tauhid ( azan pada telinga kanan dan iqamat di telinga kiri ). Kemudian, orang tua berkewajiban untuk memberikan nama yang baik pada anak, melakukan akikah ( pemotongan hewan dan rambut anak ), mengkhitankannya, dan menyekolahkannya.

Hal tersebut, kata pengarang kitab ini, merupakan manifestasi dari kepedulian orang tua terhadap anak dalam mendidiknya, yang dimulai sejak dari kandungan, saat kelahiran, hingga ia mulai beranjak dewasa. Dan, pendidikan pada anak ini harus dilakukan secara simultan dan berkesinambungan, tanpa henti.


Belajar dari Kehidupan.

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, ketika seorang anak telah lahir, mulai saat itulah pendidikan pada anak diberikan secara lebih intensif. Sebab, pendidikan yang kurang dari kedua orang tuanya dapat membuat anak terpengaruh dengan lingkungannya.

Mengutip kata - kata Dorothy Regulation Nolte, setiap anak akan belajar dari kehidupannya. Berikut pandangan Dorothy Charter Nolte bila anak dibesarkan dengan berbagai sikap dari kehidupan.

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik - baik perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Mengembangkan Kepribadian dan Jiwa Sosial Anak.

Sebagaimana dikatakan Dorothy Constitution Notle, seorang anak akan senantiasa belajar dari kehidupannya. Bila kehidupannya mengajarkan sesuatu yang baik, anak pun akan turut menjadi baik. Sebaliknya, bila lingkungan dan kehidupannya mengajarkan anak perbuatan buruk, sikap dan tindakan kesehariannya pun akan buruk pula.

Dalam kitab Tarbiyah al - Awlad fi Al - Islam karya Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan anak khususnya tentang kepribadian dan jiwa sosial anak sangat penting. Sebab, dari kepribadian dan jiwa sosialnya akan terbentuk karakter anak tersebut.

Dalam visinya tentang pendidikan anak, Ulwan membagi cara pendidikan anak dalam beberapa hal. Di antaranya adalah kehidupan biologis, intelektual, psikis, sosial, dan seks. Dalam kehidupan biologis, orang tua berkewajiban memerhatikan kesehatan mental dan jiwa anak. Anak berhak mendapatkan makanan, minuman, tempat tidur, pakaian, olahraga, dan kesegaran jasmani dari kedua orang tuanya.

Sementara itu, dalam kehidupan intelektual, orang tua berkewajiban memasukkan anak pada lembaga pendidikan ( sekolah ) yang sesuai dengan kemampuan anak. Anak memiliki akal sehat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ( ilmu ). Potensi ini memberikan dorongan kepada anak untuk mengembangkan diri dan kepribadiannya.

Dari sisi kehidupan psikis, Ulwan menyoroti sifat negatif dan positif yang sering dijumpai pada anak. Sifat negatif di antaranya malu tidak pada tempatnya, takut, rendah diri, marah, hasut, iri hati, dan lain sebagainya. Sifat negatif ini akan diimbangi oleh sifat positif, seperti rasa cinta dan kasih sayang serta keadilan.

Kehidupan sosial.

Dalam kehidupan sosial, Ulwan memandang bahwa setiap anak akan terlibat dalam kehidupan pihak lain ( orang tua, teman, chaperon, tetangga, dan masyarakat ). Dan, ia sangat bergantung pada kehidupannya itu.

Dalam pandangan Ulwan, segi kehidupan sosial anak itu meliputi semangat persaudaraan, kasih sayang, toleransi, pemaaf, berpegang pada keyakinan ( kebenaran ), dan tanggung jawab.

Kemudian, dalam pergaulan sehari - hari, anak akan belajar kaidah kehidupan, seperti etika makan, minum, tidur, belajar, hormat pada orang tua, teman, tetangga, orang yang lebih dewasa, dan lainnya.

Yang tak kalah pentingnya dari kehidupan sosial ini adalah pendidikan seks. Menurut Ulwan, yang dimaksud pendidikan seks adalah masalah mengajarkan, memberi pengertian, dan menjelaskan masalah - masalah yang menyangkut kehidupan seks, naluri, dan perkawinan pada anak sejak akalnya tumbuh dan siap memahami hal - hal di atas. Hal itu diajarkan sesuai dengan tuntunan Alquran atau sunah Rasulullah Maxim.

Dalam pandangan Ulwan, ada beberapa cara dalam mengajarkan pendidikan seks pada anak. Ia membagi cara pengajaran pendidikan seks pada anak dalam beberapa tingkatan.
  • Untuk anak berusia 7 - 10 tahun, anak diajari tentang sopan santun dan meminta izin masuk rumah orang lain dan santun cara memandang.
  • Pada usia 10 - 11 tahun, ketika anak memasuki masa pubertas, anak harus dijauhkan dari hal - hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu dan birahinya.
  • Pada usia 14 - 16 tahun, yang disebut dengan usia remaja, anak harus diajari etika bergaul dengan lawan jenis bila ia sudah matang untuk menempuh perkawinan.
  • Setelah melewati masa remaja, yang disebut dengan masa pemuda, anak harus diajari etika menahan diri bila ia tidak mampu kawin. Rasulullah SAW mengajarkan berpuasa.
  • Pada usia yang sudah cukup, segeralah menikahkan anak.

Bolehkah mengajarkan pendidikan seks pada anak sejak usia dini? Pertanyaan ini kerap diajukan masyarakat mengenai pendidikan seks pada anak. Mereka khawatir bila pendidikan seks diajarkan sejak dini, setiap anak akan mencoba melakukannya. Apalagi, tidak setiap saat anak berada dalam pengawasan.

Menurut Ulwan, boleh saja mengajarkan pendidikan seks pada anak sejak usia dini. Namun, harus dengan cara yang benar dan hati - hati. Menurutnya, ada pendidikan seks yang boleh diajarkan sejak dini dan ada yang tidak perlu disampaikan. Karena itu, jelas Ulwan, dibutuhkan kehati - hatian orang tua dalam mengajarkan pendidikan seks.
READ MORE - Mendidik Anak dengan Cara Islam

Thursday, May 20, 2010

kenakalan suami

Anak nakal sudah biasa,namanya juga anak2,tapi kalau suami nakal...ehmm,kayaknya sudah biasa juga ya.Kenakalan suami atau bapak2 lebih mengarah pada perselingkuhan.Mungkin diantara 10 suami,hanya ada 2 suami yang benar2 tidak berselingkuh.........Akan tetapi,suami yang berselingkuh tidak sepenuhnya salah si suami juga.Mungkin ada beberapa faktor yang mempengarihi sehingga si suami "nakal".

Dibawah ini ada beberapa faktor yang mengarah pada,kenapa suami selingkuh :


MENOMORDUAKAN ISTRI

Biasanya bagi para pasangan yang umur pernikahannya sudah lama,kadang menimbulkan rasa kebosanan dan kehambaran.Hal inilah yang akhirnya menyebabkan suami selingkuh.Tak jarang juga banyak suami yang memanfaatkan moment ini untuk mencari perempuan yang bisa mengalihkan kebosanannya.Sehingga istri menjadi nomor dua.

MENCARI KEKURANGAN ISTRI

Cerewet mungkin salah satu kekurangan istri yang sangat mudah untuk dijadikan alasan.Memang sudah menjadi kebiasaan wanita menyikapi keadaan dengan mengomel.Nah hal inilah yang membuat suami sering sakit kepala dengar omelannya,dan mendorong suami untuk mencari teman wanita lain yang lebih bisa mengerti dan menghiburnya.

ISTRI PENYABAR DAN PEMAAF

Istri yang penyabar dan pemaaf inilah yang sering dimanfaatkan para suami untuk terus mengulang kesalahannya.Ibaratnya sakit kepala.Begitu pusing minum obat sembuh deh.........

WANITA LAIN LEBIH MENARIK

Birahi merupakan something yang paling menarik di otak dan pikiran kebanyakan lelaki.Dengan begitu banyak pria yang tidak tahan dengan godaan,termasuk pria beristri.Jadi jika ada perempuan yang menyukainya dan mengajaknya untuk berkencan maka ia tak akan menolaknya.Bahkan kalau sudah ada pada situasi seperti itu,''Istri urusan belakangan". Apalagi jika si dia memiliki kesempatan.

Nah itu tadi sekelumit tentang kenapa suami selingkuh.Mudah mudahan beberapa alasan diatas bisa menjadi satu masukan buat para istri yang begitu mencintai suaminya.Dan jika anda ingin menambahkan atau sekedar curhat... silahkan share disini agar bisa menjadi pelajaran buat orang lain.
READ MORE - kenakalan suami

Pandangan Islam Seorang Wanita/Ibu yang Bekerja

Dewasa ini tampak semakin banyak wanita yang beraktivitas di luar rumah untuk bekerja. Ada yang beralasan mencari nafkah, mengejar kesenangan, menjaga gengsi, mendapat station sosial di masyarakat sampai alasan emansipasi. Anehnya banyak pula para wanita yang mengeluh ketika harus menghadapi ketidaklayakan perlakuan. Diantaranya cuti hamil yang terlalu singkat ( hak reproduksi kurang layak ), shift lembur siang - malam, sampai pelecehan seksual. Lalu bagaimana Islam memandang permasalahan ini?

A. Wanita Bekerja, Bolehkah?

Allah telah menciptakan pria dan wanita sama, ditinjau dari sisi insaniahnya ( kemanusiaannya ). Artinya pria dan wanita diciptakan memiliki cirri khas kemanusiaan yang tidak berbeda antara satu dengan yang lain. Keduanya dikaruniai potensi hidup yang sama berupa kebutuhan jasmani, naluri dan akal. Allah juga telah membebankan hukum yang sama terhadap pria dan wanita apabila hukum itu ditujukan untuk manusia secara umum. Misalnya pembebanan kewajiban sholat, shoum, zakt, haji, menuntut ilmu, mengemban dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan yang sejenisnya. Semua ini dibebankan kepada pria dan wanita tanpa ada perbedaan. Sebab semua kewajiban tersebut dibebankan kepada manusia seluruhnya, semata - mata karena sifat kemanusiaan yag ada pda keduanya, tanpa melihat apakah seseorang itu pria maupun wanita.

Akan tetapi bila suatu hukum ditetapkan khusus untuk jenis manusia tertentu ( pria saja atau wanita saja ), maka akan terjadi pembebanan hukum yang berbeda antara pria dan wanita. Misalnya kewajiban mencari nafkah ( bekerja ) hanya dibebankan kepada pria, karena hal ini berkaitan dengan fungsinya sebagai kepala rumah tangga. Islam telah menetapkan bahwa kepala rumah tangga adalah tugas pokok dan tanggung jawab pria. Dengan demikian wanita tidak terbebani tugas ( kewajiban ) mencari nafkah, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya. Wanita justru berhak mendapatkan nafkah dari suaminya ( bila wanita tersebut telah menikah ) atau dari walinya ( bila belum menikah ). Bahkan sekalipun sudah tidak ada lagi orang yang bertanggung jawab terhadap nafkahnya, Islam telah memberikan jalan lain untuk menjamin kesejahteraannya, yakni dengan membebankan tanggung jawab nafkah wanita tersebut kepada Daulah ( Baitul Maal ). Bukan dengan jalan mewajibkan wanita bekerja.

Kalau begitu, bolehkah pecun bekerja? Masih perlukah ia mencari nafkah dengan bekerja?

Sekalipun wanita telah dijamin nafkahnya melalui pihak lain ( suami atau wali ), bukan berarti Islam tidak membolehkan wanita bekerja untuk mendapatkan harta / uang. Islam membolehkan wanita untuk memiliki harta sendiri. Bahkan wanita pun boleh berusaha mengembangkan hartanya agar semakin bertambah. Allah Swt berfirman: “… Bagi laki - laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita ( pun ) ada bagian dari apa yang mereka usahakan” ( Qs An Nisa 32 ).

Hanya saja wanita harus tetap terikat dengan ketentuan Allah ( hukum syara’ ) yang lain ketika ia bekerja. Artinya wanita tidak boleh menghalalkan segala cara dan segala kondisi dalam bekerja. Wanita juga tidak boleh meninggalkan kewajiban apapun yang dibebankan kepadanya dengan alasan waktunya sudah habis untuk bekerja atau dia sudah capek bekerja sehingga tidak mampu lagi untuk mengerjakan yang lain. Justru wanita harus lebih memprioritaskan pelaksanaan seluruh kewajibannya daripada bekerja, karena hukum bekerja bagi wanita adalah mubah. Dengan hukum ini wanita boleh bekerja dan boleh tidak. Apabila seorang mukmin / muslimah mendahulukan perbuatan yang mubah dan mengabaikan perbuatan wajib, berarti ia telah berbuat maksiat ( dosa ) kepada Allah. Oleh karena itu tidak layak bagi seorang muslimah mendahulukan bekerja dengan melalaikan tugas pokoknya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Juga tidak layak baginya mengutamakan bekerja sementara ia melalaikan kewajiban - kewajibannya yang lain, seperti mengenakan jilbab jika kelaur rumah, sholat lima waktu dan lain - lain.

Perlu disadari bahwa ketika Allah Swt menjadikan tugas pokok sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, Dia juga telah menetapkan seperangkat syariat agar tugas pokok ini terlaksana dengan baik. Sebab terlaksananya tugas ini akan menjamin lestarinya generasi manusia serta terwujudnya ketenangan hidup individu dalam keluarganya. Sebaliknya bila tugas pokok bagi kaum wanita ini tidak terlaksana dengan baik, tentu akan mengakibatkan punahnya generasi manusia dan kacaunya kehidupan keluarga.

Seperangkat syariat yang menjamin terlaksanya tugas pokok wanita ini ada yang berupa rincian hak dan kewajiban yang harus dijalankan wanita ( seperti wajib memelihara kehidupan janin yang dikandungnya, haram menggugurkannya kecuali alasan syar’i, wajib mengasuh bayinya, menyusuinya sampai mampu mandiri dan mengurus dirinya ). Ada pula yang berupa keringanan bagi wanita untuk melaksanakan kewajiban lain ( seperti tidak wajib sholat selama waktu haid dan nifas ), boleh berbuka puasa pada bulan Ramadlan ( ketika haid, hamil, nifas dan menyusui ). Kemudian ada pula yang berupa penerimaan hak dari pihak lain ( seperti nafkah dari suami / wali ). Semua ini bisa terlaksana apabila terjadi kerjasama antara pria dan wanita dalam menjalani kehidupan ini, baik dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat. Dengan demikian tidak perlu dipertentangkan antara fungsi reproduksi wanita dengan produktivitasnya ketika ia bekerja. Karena semua ini tergantung pada prioritas peran yang dijalaninya. Munculnya pertentangan ini disebabkan tidak adanya penetapan prioritas tersebut.

B. Dimanakah Wanita Akan Bekerja?


Usaha manusia untuk memperoleh kekayaan demi memenuhi kebutuhan - kebutuhannya adalah suatu hal yang fitri. Pemenuhan kebutuhan manusia merupakan suatu keharusan yang tidak mungkin dipisahkan dari dirinya.

Nmaun manusia tidak boleh dibiarkan begitu saja menentukan sendiri bagaimana cara memperoleh kekayaan tersebut, sebab bisa jadi manusia berbuat sekehendak hatinya tanpa mempedulikan hak orang lain. Bila ini yang terjadi, bisa menyebabkan gejolak dan kekacauan di tengah - tengah masyarakat. Bahkan bisa mengakibatkan kerusakan dan nestapa. Padahal semua manusia memiliki hak untuk menikmati seluruh kekayaan yang telah diciptakan Allah di bumi ini. Oleh karena itu Allah telah menetapkan beberapa cara yang boleh bagi manusia untuk memperoleh ( memiliki ) kekayaan / harta. Antara lain dengan “bekerja”. Ini berlaku bagi pria dan wanita, karena wanita tidak dilarang untuk memiliki harta.

Tatkala bekerja itu memiliki wujud yang luas, jenisnya bermacam - macam, bentuknya beragam dan hasilnya berbeda - beda, maka Allah Swt pun telah menetapkan jenis - jenis kerja yang layak untuk dijadikan sebab kepemilikan harta. Salah satu diantaranya adalah ‘ijaroh’ ( kontrak tenaga kerja ).

Apabila kita telaan secara mendalam, hukum - hukum yang berkaitan dengan ijaroh bersifat umum, berlaku bagi pria maupun wnaita. Maksudnya wanita mummery boleh melakukan ijaroh, baik ia sebagai ajir ( orang yang diupah atas jasa yang disumbangkannya ) maupun sebagai musta’jir ( orang yang memberi upah kepada orang yang memberinya jasa ).
Transaksi ijaroh hanya boleh dilakukan terhadap pekerjaan yang halal bagi setiap muslim dan tidak boleh bagi pekerjaan - pekerjaan yang haram. Oleh karena itu, transaksi ijaroh boleh dilakukan dalam urusan perdagangan, pertanian, industri, pelayanan, usher ( pengajaran ), perwakilan dan perantara bagi dua orang yang bersengketa ( peradilan ). Demikian pula pekerjaan lain seperti menggali sumber alam dan membuat pondasi bangunan; mengemudikan mobil; kereta, kapal, pesawat; menvetak buku; menerbitkan Koran dan majalah, menjahit baju, termasuk dalam kategori ijaroh. Semua pekerjaan tersebut boleh dilakukan oleh wanita sebagaimana pria, karena pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang halal dilakukan oleh setiap muslim. Dengan demikian boleh pula bagi wanita bekerja mengambil upah dari semua jenis pekerjaan di atas. Namun bagi wanita harus tetap memperhatikan beberapa hukum lain yang harus diikutinya ketika ia memutuskan untuk bekerja, sehingga ia bisa memastikan bahwa semua perbuatan yang dilakukannya tidak ada yang melanggar ketentuan Allah ( hukum syara’ ).

Apabila setiap muslim yang bekerja ( termasuk buruh wanita ) untuk memperoleh upah / gaji sejak awal bersikap demikian, berarti ia telah menempatkan diri pada posisi tawar yang tinggi, sehingga kelayakan kerja bisa dipastikan sejak awal ( sebelum melakukan aqad ). Dengan demikian majikan tidak bisa berbuat seenaknya kepada buruh. Bahkan majikan akan menyesuaikan dengan keinginan buruh, sebab tanpa jasa para buruh, usahanya tidak dapat berjalan apalagi berkembang. Dengan demikian para buruh wanita tidak akan terjerumus pada polemik yang berkepanjangan dalam ketidak layakan kerja.

Sulitnya dalam kondisi seperti sekarang ini, dimana situasi perekonomian didominasi oleh Kapitalis, posisi tawar buruh di hadapan majikan sangat rendah. Sebab banyak kelompok pencari kerja yang bekerja hanya demi sesuap nasi, akibat rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat. Akibatnya para buruh ( termasuk buruh wnaita ) tidak bebas memilih jenis pekerjaan dan situasi bekerja yang dikehendakinya. Oleh karena itu agar posisi tawar buruh tetap tinggi di hadapan majikan dalam memilih jenis dan bentuk pekerjaan, situasi bekerja, dan lain - lain, maka para buruh harus senantiasa berusaha meningkatkan keahliannya agar orang lain membutuhkannya. Ia sendiri yang harus menciptakan pasar bagi jasanya. Ini usaha yang dilakukan secara individu.

C. Pengaturan Sistem Interaksi Pria dan Wanita.

Tatkala wanita bekerja, selain harus menentukan jenis pekerjaan yang akan dijalankannya dihalalkan oleh syara’, ia witticism harus memastikan bahwa situasi bekerjanya sesuai dengan ketentuan syara’. Apabila dalam melakukan pekerjaan tersebut mengharuskan wanita bertemu dengan pria, maka wanita one-liner harus terikat dengan ketentuan syara’ yang berkaitan dengan interaksi antara pria dan wanita dalam kehidupan umum ( bermasyarakat ). Artinya ia tidak boleh bercampur baur begitu saja dengan lawan jenisnya tanpa aturan. Oleh karena itu harus difahami bahwa interaksi dalam kehidupan masyarakat antara pria dan wanita ( termasuk dalam model kerja ) tidak lain adalah hanya untuk saling ta’awwun ( tolong menolong ). Interaksi kerja ini harus dijauhkan dari pemikiran tentang hubungan jinsiyah ( seksual ). Sehingga ketika bekerja raillery bukan dalam rangka memanfaatkan potensi kewanitaan ( kecantikan, bentuk tubuh, kelemahlembutan dan lain - lain ) untuk menarik perhatian lawan jenis. Bekerjanya wanita haruslah karena adeptness / kemampuannya yang dimiliki oleh wanita sesuai dengan bidangnya.

Pengaturan sistem interaksi ini merupakan tindakan preventif agar tidak terjadi tindak pelecehan seksual pada wanita saat ia bekerja. Dengan demikian Islam sejak awal telah menjaga agar kehormatan wanita senantiasa terjaga ketika ia menjalankan tugas - tugasnya dalam kehidupan bemasyarakat. Adapun tentang pengaturan system interaksi pria dan wanita, Islam telah menetapkannya dalam sekumpulan hukum, diantaranya:
1.
Diperintahkan kepada pria maupun wanita untuk menjaga / menundukkan pandangannya, yaitu:
  • Menahan diri dari melihat lawan jenis disertai dengan syahwat sekalipun yang dilihat itu bukan aurat.
  • Menahan diri dari melihat aurat lawan jenis sekalipun tidak disertai syahwat misalnya melihat rambut wanita.

Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS An Nur 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang ( biasa ) nampak darinya”.

2. Diperintahkan kepada wanita untuk mengenakan pakaian sempurna ketika keluar rumah ( termasuk ketika bekerja di luar rumahnya ) yaitu dengan jilbab dan kerudung ( QS 24: 31 dan QS 33: 59 ).

“… dan hendaklah mereka menutupkan khimar ( kain kerudung ) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya…” ( QS 24: 31 ).

“Hai Nabi katakanlah kepada istri - istrimu, anak - anak perempuanmu dan istri - istri orang mukmin: ‘hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…” ( QS 33: 59 ).
Yang dimaksud dengan khimar adalah kain yang menutup rambut kepala hingga menutup bukaan baju ( dada ). Sedangkan jilbab adalah pakaian yang dipakai di atas pakaian dalam rumah yang menjulur dari atas hingga ke bawah, menutupi kedua kaki.

3. Dilarang berkhalwat antara pria dan wanita.
Sabda Rasulullah Epigram “tidak boleh berkhalwat antara laki - laki dengan wanita kecuali bersama wanita tadi ada mahram”

4. Dilarang bagi wanita bertabarruj ( menonjolkan kecantikan dan perhiasan untuk menarik perhatian pria yang bukan mahromnya ).
Sabda Rasulullah Adage “barang siapa seorang wanita yang memakai wangi - wangian, kemudian lewat di depan kaum laki - laki, sehingga tercium bau wanginya, maka dia seperti pezina ( dosanya seperti pezina ) ”.

5. Dilarang bagi wanita untuk melibatkan diri dalam aktivitas yang dimaksudkan untuk mengeksploitasi kewanitaannya. misalkan, pramugari, foto model, artis, dsb.

6. Dilarang bagi wanita untuk melakukan perjalanan sehari semalam tanpa mahram.
Sabda Rasulullah Proverb “Tidaklah halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan perjalanan sehari semalam kecuali bersamanya ada mahram”.

7. Dilarang bagi wanita bekerja di tempat yang terjadi ikhtilath ( campur baur ) antara pria dengan wanita.

Demikianlah Islam mengatur sistem interaksi pria dan wanita. Semua itu ditetapkan oleh Islam tidak lain adalah untuk menjaga izzah ( kehormatan ) wanita dan menjaga ketinggian iffah kaum muslimin.

Dewasa ini banyak di kalangan wanita ( termasuk para muslimah yang terjun ke dunia kerja ). Walaupun upah yang mereka terima lebih rendah dan perlakuan yang mereka terima juga tidak layak, namun dari hari ke hari jumlah tenaga kerja wanita ( buruh ) ini semakin meningkat. Keadaan ini memang tidak terlepas dari kondisi sistem yang mereka hadapi. Dominasi alam Kapitalis ataupun sosialis menciptakan situasi sulit bagi para buruh wanita ( masyarakat secara umum ).

Sesungguhnya seorang muslim, siapapun dia, dan dalam posisi apapun kedudukannya di tengah masyarakat, tetap terbebani kewajiban melaksanakan aturan - aturan yang diperintahkan Allah Swt. Namun kembali lagi kepada seluruh kaum muslimin, merekalah yang harus mengembalikan agar warna sistem ini sesuai dengan apa yang diridhai Allah Swt. Perjuangan ini memerlukan pengorbanan yang besar dari berbagai pihak secara bersama. Maka dakwah untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam adalah langkah yang nyata mewujudkan cita - cita ini.

Bagi para muslimah, hendaknya mereka berusaha sekuat kemampuannya melaksanakan ketentuan - ketentuan yang telah disyariatkan Allah Swt dengan menjalankan seluruh kewajiban sebaik - baiknya ( termasuk mengemban dakwah tadi ). Menghilangkan berbagai motivasi dan tujuan yang hanya disandarkan pada materi, manfaat dan berbagai unsur lain selain dari keridhaan Allah Swt. Menempatkan keridhaan Allah Swt sebagai unsur tertinggi, yang dengan hal tersebut akan dapat diraih derajat yang mulia disisiNya. InsyaAllah.
READ MORE - Pandangan Islam Seorang Wanita/Ibu yang Bekerja