Artikel ini berisi kumpulan kisah
inspiratif dalam kehidupan berumah tangga. Menurut saya nilai moral dari
cerita ini bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Cerita ini saya
ambil dari sumber lain atau pun dari pengalaman orang lain dan
pengalaman pribadi. Ok, berikut ini kisah-kisahnya…
1. Kisah seorang istri yang mengeluh tentang suaminya pada Ibunya
Seseorang wanita yang baru saja menikah
datang pada ibunya dan mulai mengeluh tentang tingkah laku pasangannya
itu. Setelah menikah ia baru tahu karakter asli pasangannya yang keras
kepala, suka bermalas-malasan, boros, dan lain-lain.
Wanita ini berharap orang tuanya ikut
mendukung dia menyalahkan suaminya itu. Namun dia sangat kaget karena
saat itu sang ibu hanya diam saja… bahkan kemudian ibunya pergi ke
dapur, sementara wanita ini terus bercerita dan mengikuti ibunya ke
dapur. Lalu sang ibu mulai memasak air. Setelah beberapa waktu akhirnya
air pun mendidih.
Sang ibu lalu menuangkan air yang masih
panas itu ke dalam 3 gelas yang telah dia siapkan. Dalam gelas pertama
dia memasukkan sebuah telur, di gelas ke dua dia memasukkan wortel,
sedangkan di gelas ke tiga di memasukkan kopi. Setelah menunggu
beberapa saat, si ibu menunjukkan isi ketiga gelas tadi ke putrinya itu.
Dan hasilnya: wortel yang keras menjadi lunak, telur yang mudah pecah
menjadi keras, dan kopi menghasilkan aroma yang harum.
Lalu si ibu mulai menjelaskan:
“Anak ku… masalah dalam hidup itu seperti air mendidih. Namun bagaimana sikap kitalah yang menentukan dampaknya. Kita bisa menjadi:
1. Lembek seperti wortel
2. Mengeras seperti telur
3. Atau harum seperti kopi
Jadi wortel dan telur bukan mempengaruhi
air, tapi merekalah yang berubah karena air panas itu. Sementara kopi
malah mengubah air, membuat air itu menjadi harum.
Akan sangat mudah untuk bersyukur pada
saat keadaan kita baik-baik saja, tapi apakah kita dapat tetap bersyukur
saat kita ditimpa masalah?”
Hari ini kita belajar ada tiga reaksi orang saat masalah datang menghampiri mereka:
1. Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh, dan mengasihani diri sendir
2. Ada yang mengeras, marah, dan menyalahkan pihak lain
3. Ada juga yang justru semakin harum, menjadi semakin kuat dan bijaksana
1. Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh, dan mengasihani diri sendir
2. Ada yang mengeras, marah, dan menyalahkan pihak lain
3. Ada juga yang justru semakin harum, menjadi semakin kuat dan bijaksana
Itu semua tergantung pilihan kita sendiri bagaimana kita merespon sebuah permasalahan.
2. Pancake Buat Papa dan Mama
Brandon adalah seorang boca laki-laki
berumur 6 tahun. Suatu hari sabtu pagi, dimana biasanya orang tuanya
tidak bekerja dan tidur sampai agak siang, Brandon ingin membuat sebuah
kejutan untuk kedua orang tuanya. Dia berencana membuat sebuah kue
pancake.
Brandon mengambil sebuah mangkuk besar,
sendok, menggeser kursi ke pinggir meja, dan menarik sebuah tupperwear
berisi tepung yang agak berat, dan menumpahkan sebagian isinya ke
lantai. Lalu dia mengambil sebagian tepung itu dengan tangannya,
sebagian berserakan di meja makan, lalu Brandon mengaduknya dengan susu
dan gula sehingga bekas adonan berceceran di sekelilingnya. Ditambah
lagi dengan beberapa bekas telapak kaki kucing yang ingin tahu apa yang
sedang terjadi. Brandon belepotan dengan tepung dan dia kelihatan sangat
frustasi.
Yang dia inginkan hanya membuat sesuatu
untuk menyenangkan papa dan mamanya tapi yang terjadi malah kelihatan
sangat buruk. Brandon sekarang tidak tahu harus berbuat apa, apakah
memasukkan adonan ke dalam oven atau dibakar di perapian. Lagi pula dia
tidak tahu cara menyalakan api di kompor atau di oven.
Tiba-tiba Brandon melihat seekor kucing
mulai menjilati adonan yang dia buat, dan secara refleks dia mendorong
si kucing agar tidak memakan adonan itu. Si kucing kemudia terlempar,
membawa serta beberapa butir telur mentah yang ada di meja. Dengan
sangat cemas dia berusaha membersihkan telur yang pecah itu, tetapi
justru terpeleset karena licinnya lantai yang kini dipenuhi dengan
tepung, membuat pakaian tidurnya putih dan lengket. Dan pada saat itulah
dia kemudia melihat papa dan mamanya berdiri di dekat pintu.
Air mata kemudia berjatuhan di pipi
Brandon. Yang ingin dia lakukan adalah berbuat baik, tapi justru
kekacauan yang luar biasa yang dia buat. Kini dia hanya pasrah
menantikan omelan, jeweran, atau malah mungkin pukulan. Tapi papa dan
mamanya hanya memandang dia, lalu berjalan berjalan melawati semua
kotoran yang dia buat. Lalu papa dan mamanya mengangkat dan menggendong
Brandon yang kini sedang menangis sehingga baju tidur papa dan mamanya
ikut kotor. Papa dan mamanya memeluk dan mencium Brandon.
3. Cinta Persaudaraan
Dua orang kakak-beradik mengelola ladang
pertanian keluarga bersama-sama. Sang Kakak sudah berkeluarga dan
memiliki beberapa anak sedangkan sang adik belum berkeluarga. Mereka
berdua selalu membagi keuntungan dari usaha keluarga itu secara merata.
Pada suatu hari sang adik yang belum
berkeluarga berkata dalam hati “Memang baik berbagi keuntungan dengan
kakak ku dengan jumlah yang sama rata, tapi saya masih lajang sehingga
kebutuhan ku hidup ku tidak terlalu banyak seperti keluarga kakak ku,
dia harus menghidupi istri dan anaknya.”
Lalu pada tengah malam, sang adik
mengambil sekarung gandung dari gudangnya. Dia melintasi ladang yang
terletak di di antara rumahnya dan rumah kakaknya, lalu sanga adik
meletakkan gandum itu di dalam gudang kakaknya.
Sementara itu, tanpa diketahui sang
adik, saudaranya ternyata memiliki pikiran yang sama dengannya. Sang
kakak berkata pada dirinya sendiri “Sebenarnya tidak pantas bila kami
membagi keuntungan sama besar, karena saya sudah berkeluarga. Saya punya
istri yang selalu memelihara dan mengurus kebutuhan ku, dan anak-anak
ku akan mengurus kehidupanku kelak”. Pada malam hari, sang kakak
mengambil sekarung gandum dari gudangnya dan pergi diam-diam melintasi
ladang mereka untuk memasukkan gandumnya ke gudang adiknya.
Selama bertahun-tahun, kedua kakak
beradik itu bingung, mengapa persediaan gandum di gudang tidak pernah
berkurang walaupun sering memindahkan gandumnya ke gudang saudaranya?
Lalu pada suatu malam, terjadilah peristiwa yang tidak mereka
sangka-sangka. Sang kakak dan adik pergi ke gudang satu sama lain pada
saat yang bersamaan. Dalam kegelapan malam ketika membawa gandung,
mereka ternyata bertemu dan saling menyadari apa sebenarnya yang terjadi
selama bertahun-tahun. Lalu mereka berdua meletakkan gandumnya dan
saling merangkul.

No comments:
Post a Comment